Coba Amati: Apa Cover/Sampul Burung Cendet Anda

Coba Amati: Apa Cover/Sampul Burung Cendet Anda

Cendet power full (Dok. pribadi Gunawan Santoso)

Artikel ini lahir dari pengalaman, imajinasi dan lanturan pemula yang sangat berharap dapat menginspirasi banyak penikmat Cendet pemula seperti saya, tidak ada maksud sok tau, menggurui atau menyindir siapapun, semata hanya untuk kemajuan kicau mania, burung Cendet khususnya.

Saya akan bahas 3 “sampul utama” yang menurut saya layak dijadikan pembelajaran kalau untuk para penikmat kicauan, khususnya cendet, agar bisa juara dan stabil di Lomba.

Pahami ulasan berikut.

Pertama, tentang “sampul/cover” cendet kita.

Apa sampul utama burung cendet Anda saat dilombakan, apakah ia memiliki:

  • Tembakan dengan volume yang aduhai?
  • Gaya bunyi yang jadi magnet untuk mengundang para penghakim lapangan mendekat?
  • Pembawaan irama lagu yang licin atau speed yang keren?

Pengalaman ini saya belajar dari seorang tokoh kicau mania, bahwa tembakan/tonjolan ibarat kita mengundang seseorang untuk datang, lalu saat tamu kita sudah datang memenuhi undangan itu, apa yang kita suguhkan? Sebuah keramahan dengan makanan enak dan secangkir kopi susu panaskah? Atau semua keluh kesah bahkan caci maki? Atau malah sang tamu kita cuekin?

Baca juga: Kasta, Termasuk yang Mana Cendet Anda?

Di sini faktor yang belum banyak dipahami pelomba, setelah burung kita nembak, juri mendekat, lalu apa yang burung kita suguhkan? Apakah hanya diam, di sini akhirnya kita kenal istilah tembak bobok atau tembak lari (dalam ungkapan bahasa Jawa: mosok sampun diundang, tamu.nipun rawuh gur dinengke)? Apakah lagu “busuk-busuknya”? Atau sebuah lantunan irama lagu indah?

Maka dari itu kita perlu juga belajar menilai tidak hanya burung kita saja, tetapi juga burung orang lain. Mulainya dari mana? Gampang, simak video cendet dari teman-teman yang banyak diposting di medsos, amati, banding-bandingkan, nanti lama kelamaan akan tahu mana yang istimewa, mana yang bagus, mana yang biasa aja.

Atau belajar langsung dari pengorbit cendet yang tidak cuma mengorbitkan 1 nama besar setelah itu hilang. Ikuti, amati burung-burungnya yang sering medapat nominasi kejuaraan, pelajari kelebihannya mengapa kok bisa juara, lalu cari/beli yang seperti itu atau bahkan lebih bagus dari itu. Kalau dana belum sampai ya coba nyetak sendiri atau merendahkan hati izin belajar rawat burung teman yang prospek/sudah stabil juara.

Sampai di sini, perlu saya tegaskan, bahwa ulasan ini dipersepsikan pola permainan yang fair play, bukan karena “permainan kotor” atau ada unsur curang.

Lalu apa sebenarnya yang dimaksud dengan irama lagu? Seorang senior saya pernah menjelaskan, irama lagu yang bagus adalah bagaimana seekor burung bisa membawakan suara masterannya dengan sama baiknya atau bahkan lebih baik dari master aslinya, perpindahan lagu yang enak, tidak “wagu”.

Baca juga: Cendet Instan, Beli Kok Minta Garansi Juara?

Sudut pandang lain yang mungkin masih jarang dibahas, soal jumlah peserta dalam satu gantangan. Katakan jumlah gantangan hanya 15 atau 20 ekor burung, irama lagu dan durasi kemungkinan besar bisa dijadikan pertimbangan utama.

Karena waktu juri memperhatikan satu persatu menjadi jauh lebih lama per burungnya, dan jarak pandang juri otomatis juga lebih jelas karena jumlah peserta “sedikit”, lebih kelihatan mana yang speed bagus, mana yang durasi full, mana yang ngruji, mana yang nebok, mana yang bayek, mana yang “tembakan tok”, mana yang volume tipis, mana yang irama lagu biasa, mana yang irama lagu mewah.

Lain cerita kalau peserta full atau hampir full, katakan durasi penjurian 15 atau 20 menit, jumlah gantangan katakan 40 ekor ke atas, atau bahkan 60 ekor. Di sini durasi tidak akan jadi faktor pembanding utama, bagaimana juri bisa tahu durasi di gantangan nomor 02 full, misalnya, ketika dia sedang ada di bawah gantangan 50? Jarak pandangnya juga tertutup oleh sangkar lain bukan?

Durasi penilaian burung juga berapa detik per burung. Coba dilogika aja, durasi penilaian dibagi jumlah peserta, per peserta dapat jatah “lirikan” berapa detik? Hehe, jadi untuk “penilaian/lirikan tembak jauh” yang dilakukan juri saat menilai sangat mungkin bisa meleset.

Menurut pendapat saya, saat jumlah gantangan banyak, yang dipakai biasanya, biasanya lho ya, burung yg manggil juri (volume keras, burung pukul, atau tidak jarang yang komplain, burung tembak bobok kok bisa juara), ya menurut saya karena faktor keterbatasan tadi (waktu penilaian, jarak pandang, jumlah burung yang harus dinilai, dan lain-lain).

Jadi biasanya juri hanya memberi pengajuan/nilai mentok untuk burung-burung yang dia “disuguhi” tembakan mewah, volume keras, irama lagu mewah saat menilai di bawahnya. Maka saat peserta full, maaf nih cuma pengamatan pemula, burung uplik-uplik durasi full, seringkali protes, mengapa kok durasi kerja burung full sering susah dapat nominasi atau juara nomor kecil di lomba besar.

Baca juga: Lomba Nasional atau Lokal, Apa Kriterianya?

Di sinilah faktor strategi (bawa burung yang sesuai banyak sedikitnya jumlah peserta) dan faktor hoki (faktor X) bermain, jadi ya kalau gantangan full, bawalah burung yg sering mukul / volumenya keras, saat ada juri lewat di bawahnya dia beri suguhan yang enak-enak (tembakan keras, irama lagu yang indah, seretan yang panjang2, dan lain-lain), juri jauh ngetem munting ra popo, atau bahkan mbayek kalau tidak ketahuan ya anggep aja bejo, hehehe. Tapi kalau peserta sedikit ya burung tembak lari memang jarang terpilih juara.

Semua yang saya tulis di atas hanya berdasarkan survei dan pengamatan pemula dari pinggir lapangan dan beberapa kali di dalam gantangan selama saya menggantang cendet.

Catatan admin Bosskicau: masih ada sambungan dari artikel ini sebagai sampul kedua dan ketiga. Sabar tunggu ya boss. (86)

 Salam pemula,

Gunawan Santoso (Pendiri dan admin Group FB Mania Cendet Jawara, WA: 087.8888.55.777)

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *