Cover/Sampul pada Juri yang Perlu Kita Ketahui

Cover/Sampul pada Juri yang Perlu Kita Ketahui

Kartika Jezvina, asal Borobudur, juri perempuan yang dikenal tajam mengeksekusi burung juara (sumber: burungnya.com)

Berikut ini artikel lanjutan dari sebelumnya tentang cover/sampul gaco kita, khususnya cendet.

Baca yang pertama di sini: Coba Amati, Apa Cover Sampul Burung Cendet Anda

Kedua, cover profil juri.

Di poin ini maafkan saya tidak bermaksud menggurui siapapun, terutama bapak/ibu juri yang saya hormati. Semata-mata hanya untuk kemajuan kita sebagai kicau mania.

Sering terjadi, kita “ngomel” kalau burung yang kita gantang meleset penilaiannya, mungkin cerita ngelantur saya di bawah ini bisa sedikit membantu memberikan pengertian.

Pertama-pertama pahami dulu, karena tidak semua juri punya backgroud yang benar-benar memahami kicauan.

Saya ajak teman-teman menilai dari covernya dulu. Banyak juri senior yang berasal dari pemain atau bahkan tokoh senior jauh sebelum saya mengenal dunia lomba, dan saya anggap mereka mumpuni (mampu) dalam menilai lomba kicauan.

Tetapi seiring semakin banyaknya EO baru dan gantangan baru yang bermunculan di mana-mana, perlu juga juri-juri baru yang bisa dikaryakan untuk menilai gelaran yang diadakan.

Perlu kita mengerti juri-juri baru yang bertugas tidak semua punya background pemain ataupun perawat yang benar-benar memahami kualitas burung (paham karena pengalaman dan jam terbang).

Ada juri yang menjadi juri hanya karena tuntutan kebutuhan, akhirnya si mas atau mbak yang awam dunia kicau, ikut diklat singkat yang memberikan sedikit pengetahuan untuk menilai.

Analoginya begini: apakah dengan hanya membaca sebuah buku bertema “Bagaimana menjadi perenang handal” otomatis bisa membuat yang baca langsung bisa renang bagus? Atau bahkan bisa mengajari orang lain berenang hanya karena sudah membaca buku dan ikut ujian teorinya? Hehe.

Memang selalu ada saat pertama untuk semua hal, tapi terus belajar setelah saat pertama dilewati adalah hal yang bijaksana.

Ada juri yang “dijadikan” juri karena “kebutuhan alam”, dikarenakan sebagian besar pelomba adalah pria normal, maka sosok bidadari cantik sangat bisa menjadi penyegar di lapangan lomba, terlebih sosok tersebut berperan sebagai juri, tapi apakah benar-benar bisa menilai?

Atau hanya berperan sebagai “pagar ayu”.

Baiklah, Anda paham menilai burung yang menilainya dengan cara menghitung, tapi apa dia paham menilai sebuah karya seni, menilai burung dengan irama lagu sebagai kriteria utamanya, apakah ajuan nominasi Anda banyak yang dipakai atau masih banyak yang meleset terus ikut ajuan korlap atau juri lain?

Dalam hal ini juri perlu terus meng-upgrade dirinya, dengan belajar dan terus belajar, tidak antikritik dan tidak lalu merasa sudah paling tahu bkarena (maaf) sudah ikut diklat yang berkualitas atau sudah gabung dengan suatu EO besar atau terkenal.

Nah di sini kita perlu sadar, tidak semua juri sudah “paham” menilai cendet. Kita bahas sisi manusia juri yang punya selera yang berbeda juga. Ada juri yang memang sangat suka lagu gerejaan, apalagi yang ditembakkan panjang; ada juga yang selalu terpesona dengan burung dengan volume pukulan/lagu yang di atas rata-rata; ada juga yang terpesona dengan gaya bunyi yang berbeda (burung duduk nagen dengan show yang wow, ekor ngawet, kepala nge-per saat bunyi, buka paruh lebar, dll); ada juga yang cari aman, pokok asal nagen bunyi terus tidak ngetem tidak peduli dia mau ngelagu seperti apa, itulah yang juara.

Maka dari itu kita perlu memahami pakem dan selera juri, atau minimal tahu kemampuan juri, sebelum turun di suatu lomba.

Jadi ya “wajar” kalau semisal kita protes walang krak krak tembus e koyo ngono kok gur dilewati tok. Mungkin jurinya sewaktu Anda gantang, seleranya lagu gerejaan atau lovebird dan bukan walang krak, hehe. (86)

Salam pemula,

Gunawan Santoso (Pendiri dan admin Group FB Mania Cendet Jawara, WA: 087.8888.55.777)

 

 

 

One Response

  1. K.A.G-KLB BF Reply

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *