Kisah Om Gun: Beli Cendet, 5 Bulan Baru Bunyi

Kisah Om Gun: Beli Cendet, 5 Bulan Baru Bunyi

Gunawan Santoso (Om Gun), pemain cendet kawakan asal Semarang

Sedikit berbagi cerita.

Saya beli dari master Rey Shafan di Sumenep Madura dengan angka yang tidak murah untuk cendet ini.

Transaksi bulan oktober 2019, dikirim via bus, dari madura pagi, sampai semarang hampir tengah malam. Turun dari bus, waktu kondektur buka dari bagasi, saya sudah feeling tidak enak. Sepanjang perjalanan, saya bawa pulang burung ini grabakan terus.

Hari pertama, persis kalau teman-teman lihat cendet ombyokan di pasar burung, dideketin orang, klabrukan tidak karuan, dikasih jangkrik pakai tangan tidak mau, persis tangkapan tua hutan pokoknya.

Boro-boro bunyi, tet saja tidak pernah dengar, dan takut orang banget, ini berulang dari hari pertama sampai berminggu-minggu selanjutnya. Dan berlanjut bulan, sdah mulai tidak takut, tapi masih kagetan.

Sempat pindah di teman luar kota, tapi ya tetap trouble, burung bunyi tapi nyolong-nyolong, dideketin klabrukan lagi, tidak lama burung balik semarang lagi.

Berjalannya waktu, ini burung mulai galak sama saya, dan saya senang, wah akhirnya dia berani sama orang.
Sampai akhirnya burung ini mabung total.

Mulai tuntas dan mulai bisa direkam dari jarak dekat pagi ini (5 bulan dari beli kakak). Lalu apakah sudah sepenuhnya pulih? Pasti belum, bunyi masih semau dia, tapi sudah rajin, kadang mau digoda, dan yang saya suka dia sekarang galak.

Apa tho yang mau saya bagi dari cerita singkat ini?

1. Sering banget ditanya orang atau baca-baca postingan. Bagaimana biar cendet cepat kondisi, cepat gacor lagi. Jawabannya ya cuma sabar, dirawat yang baik, beri makan jangan telat, voer jangan sampai habis, mandikan, kalo ada duit lebih ya belikan vitamin, dll.

Apakah saya menyalahkan penjual? Kagak tuh, curhat doing. Saya bilang dia nipu? Sama sekali kagak!

Situ baru hitungan hari/minggu burung tidak kondisi (galak/bayek/manja/salto/dll) sudah ngeluh, menyalahkan penjualnya, mungkin nuduh penjualnya nipulah atau semua hal yang jelek. Coba ngalamin kayak gini, berbulan-bulan trouble, beli burung jutaan, datang harus direkondisi seperti ombyokan di pasar burung.

Banyak faktor burung bisa trouble, dan itu tidak selalu salah penjual, bisa jadi ada human error di pengiriman atau burung ternyata pas tidak fit waktu dikirim atau faktor yang lainnya.
Burung di sana sehat sampai sini sakit ya pernah. Beberapa kali soalnya ngalamin kayak gini, butuh adaptasii kakak.

2. Apakah harga bahan itu murah? Kagakk selalu, situ baru ambil burung jutaan tipis, nanya prestasi di cup mana ajalah, minta garansi stabillah, komplain ini itu lah, apalah. Burung jadi tidak ada harga pasarnya, yang bikin mahal itu kualitas, dan kualitas itu tidak selalu harus prestasi kakkk. Ada kok burung lepas trotol belasan juta dan banyak juga kok burung prestasi yang Cuma satu atau dua jutaan saja. Lalu ukuran kualitas itu apa? Bisa jadi Stabilnya, bisa jadi kemewahan materinya (irama lagu, tembakan, volume, dll), bisa jadi kelas prestasinya, bisa jadi modalnya wes muahall, dll.

Maaf bagi kaum kaget harga. Maaf bukan maksud untuk menyinggung, cuma menyungging kok, hehe.

Saran: kalau gak yakin di awal (entah sama burungnya atau sama yg jual), mending tunda transaksinyah, daripada nawarnya ngawur/php/terpaksa deal tapi endingnya gak enak mutus persaudaraan.

Kalau belum kenal sama yg jual? Kan grup MCJ ini ada fasilitas Rekber yang bisa dipakai.

Dan kalau sudah deal ya wes yakinlah sama yang jual, dan yakinlah sama burung yang kakak pinang, biasanya kan berkah, trouble vs aman persentasenya 5:95 kok, tenang.

Baca juga: Lomba Burung dan Antisipasi Penyebaran Covid-19

Semoga menguatkan hati ya.
Yang males baca skip aja, maaf efek lockdown jadi nulis ngalor ngidul.

Salam pemula galau
Gunawan Santoso

Wa. 087.8888.55.7777

 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *