Latber BKM: Kelas Cendet selalu Meriah lo Boss!

Latber BKM: Kelas Cendet Meriah, Ada Tapinya!

Suasana latber di BKM (12/10/19), kelas cendet 56 peserta

Latber di BKM (Bantul Kicau Mania), Sabtu (12/10/2019) kembali diramaikan oleh kelas cendet, sebagaimana latber sebelumnya. Kali ini terdapat 56 peserta, sedikit lagi full gantangan.

Tim juri memutuskan ada 13 nominasi yang layak juara. Dari nomor urut kecil, juara 1 dan seterusnya, diraih oleh cendet Brutal (om Wawan, Cer’s Jogja), Roll Speed (om Yanto Kewer, Soor Pelem), Mafia (M.Yusuf, DT IKC 3), Joker (om Erwin, Balkid Sf), Dragon Ball (om Erwin, Balkid Sf), Gelandangan (om Mr. Erwin, Bangjo Sf), Jambret (om Eko, Prakasita), Setan Alas (om Tri Bencer, Pratem Sf), Sor Dot (om Imam S., Bangjo Sf), Slamet (om Mr. Wahyu, Kiyya Jogja Sf), Pancasona (om Gadhul, Lare Pusing), Manten Anyar (om Java Jaya, Pares Sf), dan Zombi (om Antok, BDg SSB).

Ramainya peserta itu, tentu tidak bisa dilepaskan dari komunikasi antar pemain atau komunitas yang membangun kesamaan persepsi. Bahwa gelaran ini, meski sebatas latber, merupakan ajang silaturahmi antar pemain/komunitas melalui hobi.

Di lokasi, terlihat juga ada Mbah Suro, pemain senior yang sekarang sebagai juri BnR,  memberikan dukungan moril terselenggaranya latber di BKM.

Latber BKM: Kelas Cendet Meriah, Ada Tapinya!

Dari kiri ke kanan: om Wawan, om Jova, Mbah Suro, om Eko, om Januar

Baca juga: Bupati Cup 4 Ngawi: Cendet Mandala Menggila

Namun demikian, beberapa pemain yang dikonfirmasi oleh Bosskicau menilai latber BKM pada Sabtu kemarin memunculkan beragam tanggapan. Om Delka dari Gerobag Sf, misalnya, merasa puas dan senang bisa gantang bareng bersama cendeters Jogja, terutama Bantul Selatan (Bansel).

“Keren, asyik, dan puas, meski tidak juara, hehe”, tuturnya.

Latber BKM: Kelas Cendet selalu Meriah

Pose cendeters Bansel (Bantul Selatan) di latber BKM

Sedikit berbeda dengan respons om Barong (nama inisial, bukan nama sebenarnya). Menurut peserta yang juga ikut main di latber itu, meski pesertanya banyak, hampir full gantangan, tapi tidak diikuti oleh jumlah juri yang mestinya lebih dari 6 orang, sehingga bisa maksimal dalam melakukan pemantauan burung kerja.

“Bayangkan, nyaris full gantangan, 56 peserta, tapi juri hanya 6 orang, sudah termasuk dengan korlapnya. Jelas kurang maksimal pantau burung kerja”, ungkap om Barong.

Apa yang dikatakan oleh om Barong kemudian ditambahkan oleh temannya saat media Bosskicau berbincang di even Piala Wali Kota Jogja, Minggu (13/10/19). Menurut teman om Barong itu, jika memang peserta full gantangan, mestinya ada inisiatif dari panitia untuk melibatkan pemain agar masuk dan bantu pantau di dalam bersama para juri.

Kritik dan saran tersebut ada benarnya, dan sangat baik untuk peningkatan kualitas di waktu yang akan datang. Semoga menjadi perhatian panitia penyelenggara dan para juri, yang tidak hanya untuk BKM, tapi semua lintas EO dalam “kasus” yang kurang lebih sama. (86)

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *