Murai Batu Trah Juara, Ade Hoki BF Klaten

Murai Batu Trah Juara, Ade Hoki BF Klaten

Murai Batu Asterix, indukan jantan trah juara di Ade Hoki BF, Klaten

Melakukan breeding (ternak) Murai Batu bagi banyak kalangan pecintanya, tidak sekadar memuluskan netas, tapi yang jauh lebih penting daripada itu adalah menjaga kualitas indukan, sehingga besar kemungkinan akan berpengaruh pula pada anakannya.

Sebab  memang, ada dua tipologi peternak. Pertama, peternak yang sangat berhati-hati dalam proses ternak, dengan cara menjaga dan mempertimbangkan kualitas indukan. Yang dimaksud kualitas indukan yaitu biasanya berpedoman pada trah juara, atau ada juga yang fokus pada panjang ekor, variasi warna (blorok), dan lain sebagainya.

Kedua, peternak yang tanpa mempertimbangkan sebagaimana tipologi pertama. Jadi, yang penting netas lancar, bagus atau tidaknya indukan tidak dianggap penting, sehingga berharap apakah anakan dari tipologi ini bisa memiliki mental yang bagus, daya rekam kuat untuk penguasaan materi lagu, main apik di lapangan, kadang beresiko tinggi, kecuali faktor bejo alias keberuntungan.

Para pemain Murai Batu untuk kontes atau lomba, pada umumnya lebih berani berspekulasi memilih tipologi pertama. Itulah sebabnya, untuk indukan yang memiliki track record (rekam jejak) istimewah, biasanya para pembeli anakan-anakannya sampai rela antri panjang.

Berikut ini, tim Boss Kicau berkesempatan mengintip “rahasia dapur” salah satu peternak dari Klaten, Jawa Tengah, Om Adika IP, yang memenuhi unsur dari tipologi pertama di atas, sebagai peternak yang memiliki indukan trah juara.

Dan tentu saja, anakan-anakannya telah terbukti di lapangan.

Saat diwawancarai tim Boss Kicau, Om Adika bercerita kalau induk jantan bernama Asterix, diperoleh dari Mr. Vincent Cibubur dengan harga lumayan fantastis, 32 juta.

“Asal mula burung ini si pemilik lama dapat langsung dari Bahorok pada th 2010 dan sudah banyak menoreh prestasi regional maupun nasional pada tahun itu”, tutur Om Adika.

Pejantan Asterix di tangan peternak hasil didikan dan bernaung di bawah PBI ini masih tergolong baru, sekitar satu setengah tahun. Dan sebagai indukan, oleh Om Adika dijadikan sebagai pejantan poligami, artinya mengawini beberapa betina.

Om Adika juga bercerita kalau Asterix, yang memiliki panjang ekor kurang lebih 20 cm, kadang masih dibawa main ke lomba standar Cup, dan selalu masuk di 3 besar.

Murai Batu Trah Juara, Ade Hoki BF Klaten

Piagam penghargaan. Om Adika breeding Murai Batu trah juara atas didikan dan di bawah naungan PBI.

Karena alasan itulah, Om Adika tidak hanya sabar mencatat pesanan anakan-anakannya, tapi ada pula yang justru tertarik ingin memiliki Asterix dengan harga yang menggiurkan. Saat ditanya tentang harga tawaran terakhir, Om Adika tersipu malu, awalnya enggan beri tahu, tapi setelah didesak, akhirnya ia buka juga.

Mau tahu berapa tawaran Asterix?

Senilai 67 juta, tapi masih disayang belum mau dijual.

“Beberapa bulan yang lalu Asterix pernah di tawar 2 pemain ternama senilai 67 juta, namun tidak saya jual karena saya sudah terlanjur cinta”, imbuh Om Adika.

Murai Batu Trah Juara, Ade Hoki BF Klaten

Aktivitas Om Adika di kandang Murai Batu trah juara, Ade Hoki BF, Klaten

Bagaimana dengan indukan betinanya? Tidak main-main, Om Adika menyiapkan indukan betina dari trah juara juga. Di antaranya, cucu dari trah Andromeda, yang menurut pengakuan Om Adika, dapat langsung dari temannya, Naza Bf, dan baru-baru ini dapat kiriman betina (panjang ekor 14,5 cm) langsung dari Marike (nama daerah di kawasan Bahorok kaki gunung Louser).

Sampai sekarang, dari indukan jantan Asterix, telah berhasil menetaskan 26 anakan. Jadi, apakah Anda juga minat antri memilki anakan Murai Batu trah juara dari kandang Ade Hoki BF, Om Adika? Gassss boss! (86)

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *