Perbedaan Hobi Burung di Barat dengan Indonesia

Perbedaan Hobi Burung di Barat dengan Indonesia

Suasana hobi burung di Indonesia melalui lomba. Lokasi di Sorowajan Independen Yogyakarta.

Paul Jepson, ilmuwan dari Pusat Lingkungan Universitas Oxford Inggris, yang dimuat di BirdAsia 9 (2008), menulis artikel berjudul Orange-headed thrush/Zoothera citrina and the avian X-factor, yang menjelaskan perbedaan karakter para pecinta burung di Barat dengan Indonesia.

Di Barat, tulis Paul Jepson, pecinta burung hanya malakukan ternak, identifikasi apakah burung tersebut langka atau tidak, dan bagaimana penyebaran populasinya. Sedangkan di Indonesia, penghobi burung selain ternak dan bahkan melakukan uji coba kawin silang sehingga menghasilan postur serta variasi warna, juga menikmati kicauannya, dan disemarakkan oleh adanya lomba maupun sekadar koleksi di rumah (klangenan).

Paul Jepson mengapresiasi istilah “kicaumania”, sebagai nama khas bagi penghobi dan penikmat kicau burung di Indonesia.

Ajang kontes burung pada awal-awal terselengara terkadang tidak hanya sekadar lomba biasa, tetapi menunjukkan strata sosial, antara “yang miskin” dengan “yang kaya”. Cucakrowo, misalnya, identik dengan orang kaya dan krutukan identik dengan orang biasa/miskin.

Baca juga: Lomba Burung, Sejak Kapan?

Namun seiring perkembangan zaman, kesenjangan sosial itu tidak berlaku lagi, sebagaimana terlihat saat sekarang, hobi burung menyatukan semua lapisan dan strata sosial. Yang merasa kaya, atau merasa miskin, semuanya bisa berkumpul jadi satu, guyup rukun.

Gasssss boss. (86)

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *